MyInspirasi – Semua generasi muda pasti menginginkan kesuksesan dari usia yang belia. Memiliki bisnis sendiri dan mampu mendulang kesuksesan pasti menjadi impian yang ingin diraih. Namun, tanpa usaha dan kerja keras, secemerlang apa pun ide yang dimiliki tak akan cukup kuat untuk menjadikan mimpi itu terealisasi. Dalam ketatnya persaingan bisnis yang ada, ternyata tetap ada generasi-generasi muda yang termotivasi untuk melakukan Inovasi di bidang Pendidikan di Indonesia. Salah satunya adalah Ismail Bachtiar, prestasi di dunia bisnis dan pendidikan mengantarkan pria kelahiran Bone, 3 Juli 1993 ini menjadi satu dari 10 pemuda yang memiliki pengaruh di Sulawesi Selatan versi Tribun Timur dan masuk dalam deretan pemuda inspiratif Makassar oleh Makassar Terkini. Ada beberapa pengalaman dari beliau yang bisa kita pelajari untuk kiranya dijadikan motivasi. Berikut adalah kisah dibalik perjalanan sosok inspratif muda kita.

Ismail Bachtiar

Menembus Batas

Awal 2010, Ismail hijrah dari Bone ke Makassar. Tak hanya mengemban ilmu di pendidikan tinggi, tapi ia juga mencari kerja untuk membantu keluarganya. Secercah harapan pun muncul pada 2010 ketika pemerintah membuka program Beasiswa Pelajar Miskin Berprestasi (Bidik Misi). Ismail pun mendaftarkan diri demi meneruskan cita-citanya.

Sayangnya, beasiswa dari pemerintah itu tersendat hingga ia harus putar otak untuk bisa terus kuliah sambil membantu keluarganya. Ia pun menyisihkan sebagian uang beasiswa tersebut dan ia gunakan sebagai modal usaha es teler pada April 2012. Usaha es teler itu juga ia lakoni sendiri, mulai dari belanja ke pasar hingga berjualan. Usaha ini akhirnya harus berakhir delapan bulan kemudian Bukan karena bangkrut, tapi ia kewalahan karena laku hingga membuat ia kelelahan “karena saya khawatir akan berimbas ke IPK dan pencabutan beasiswa, saya cari usaha lain yang cocok dengan jadwal kuliah dan passion saya, yaitu les privat dari rumah ke rumah” tutur lulusan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat di Universitas Hasanuddin ini.

Meskipun sekarang nama Ismail sudah memiliki posisi dalam iklim bisnis dalam negeri dan dikenal sebagai pemilik tunggal PT. KingDex86 (Perusahaan yang bergerak dibidang perkapalan dan perminyakan), Ia pernah merasakan istimewanya pendidikan tinggi di tengah keterbatasan ekonomi. Dengan kedisiplinan ilmunya di bidang agama, ia pun ingin membaginya kepada anak-anak lain melalui lembaga pendidikan informal, namun dengan pendekatan yang lebih bermakna.

Bermula dari Inovasi Pendidikan

Pemuda yang akrab di sapa Ismail ini, merupakan pendiri Rektor Institute, sebuah lembaga pendidikan informal yang membantu mendampingi persiapan calon mahasiswa baru dan telah mendampingi ribuan peserta di seluruh Indonesia. Selain itu, lembaga ini juga menyediakan beasiswa bantuan pendidikan untuk anak muda Indonesia yang memiliki pengalaman organisasi, prestasi dan motivasi tinggi untuk berbisnis. Saat ini sudah ada puluhan anak berprestasi yang telah dibiayai studinya di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) melalui beasiswa ‘Bintang Rektor’ ini. Rektor Institute memiliki ratusan karyawan dan sukarelawan, yang tidak lain merupakan mahasiswa-mahasiswi berprestasi yang mempunyai visi yang sama untuk memajukan pendidikan di Indonesia.

Tak hanya pendampingan intelektual, melalui Rektor Institute Ismail ingin mencetak lulusan-lulusan yang memiliki kecerdasan emosional dan spiritual. Ia menetapkan operasional usaha yang dijalankan berbasis syariah. Karena itu, pola penguatan spiritual diterapkan di internal manajemen dan jasa yang ditawarkan. Di internal, tim manajemen diwajibkan menjalankan kewajiban sebagai Muslim. Sementara, kepada peserta bimbingan, RI mengajak para peserta untuk memperkuat ibadah sunah seperti shalat Dhuha dan Tahajud. Rektor Institute menjadi lembaga pendidikan informal pertama yang menjalankan basis seperti itu.

Tak heran jika Ismail dan Rektor Institute memperoleh banyak penghargaan dan apresiasi dari berbagai pihak, diantaranya Bank Syariah Mandiri Santripreneur Award 2015 sebagai Lembaga pendidikan informal berbasis syariah terbaik untuk wilayah Sulawesi Selatan dan kawasan timur Indonesia, dan menjadi pengusaha muda syariah terbaik versi Bank Indonesia 2017. Mengalahkan belasan nominasi dari bermacam provinsi.

Nama Ismail juga dikenal sebagai pendiri Rumah Tahfidz Rafiqul Muslim yang berlokasi di Makassar, tak jauh dari kampus Universitas Hasanuddin. Setiap tahunnya, mahasiswa yang memiliki keistimewaan khusus dalam menghafal Al-Qur’an, diberikan bantuan pendidikan dan diberangkatkan umrah ke tanah suci. Terdapat belasan santri yang sekarang tinggal di asrama tahfidz ini, dan ratusan siswa hafidz non-mukim yang digratiskan. “saya percaya bahwa semakin banyak memberi, Allah akan membalas dengan lebih banyak lagi” paparnya.

Kecintaan Ismail terhadap pendidikan dan kepemudaan membuatnya terus melakukan inovasi untuk pendidikan yang merata, salah satu program yang ia akan laksanakan adalah ‘10.000 flashdisk pendidikan untuk Indonesia’ yang akan dimulai di tanah kelahirannya di Kabupaten Bone dan sekitarnya. Ia menjalankan program tersebut dengan harapan bahwa setiap siswa, guru, orangtua, instansi, dan pemerintah bisa memperoleh informasi dan belajar secara menyenangkan sehingga mereka bisa belajar kapanpun dan dimanapun.

Sosok Ismail Bachtiar menjadi pelajaran untuk kita bahwa kesuksesan yang hakiki bukanlah soal memiliki banyak harta, bukan pula mendapatkan sebuah medali atau menjadi terkenal, tapi kesuksesan yang hakiki adalah tentang bagaimana memanfaatkan apa yang kita miliki sekarang agar bisa bermanfaat untuk orang banyak.
Beliau adalah teladan untuk generasi milennial yang mempunyai harapan sebagai generasi bangsa yang unggul untuk melanjutkan kemerdekaan Republik Indonesia.

­­

Sumber : IsmailBachtiar
Editor : PenaMerah

Facebook Comments