MyInpirasi – Sejarah bukanlah narasi yang tunggal, melainkan menyuguhkan ribuan alternatif  narasi.Harari (2014) telah mendedahkan tiga etape penting membentuk jalan sejarah manusia, yaitu revolusi kognitif, revolusi pertanian, dan revolusi sains. Abad ke – 21 ini identik dengan letupan besar ilmu pengetahuan dan teknologi yang dijajaki kaum muda milenial. Generasi milenial datang dengan coraknya sendiri yang sedari dini sudah bersentuhan dengan internet. Sangat jauh berbeda dengan generasi yang lahir di tahun 70 sampaidengan 90- an.

Percepatan arus teknologi memberikan efek luar biasa saat ini. Anak kecil sudah banyak memiliki smartphone dan menggunakan berbagai aplikasi dari gawai tersebut. Aplikasi yang paling fenemonal saat ini seperti TikTok yang sedang digandrungi kawulamuda. Tak tanggung-tanggung mulai dari usia 3 tahun sampai usia dewasa bersolek di hadapan aplikasi TikTok. Kehadiran TikTok membuat centang perenang dijagad media sosial. Banyak yang menikmati, banyak pula khawatir dengan ini. Pasalnya beberapa penggunannya memberikan tontonan yang kurang etis untuk perkembangan generasi muda.

Aplikasi TikTok merupakan salah satu karya anak milenial yang harusnya diapresiasi. Sejatinya teknologi membuat kehidupan manusia bias lebih maju dan berkembang. Hanya saja jamak manusia menggunakan untuk narsisme belaka dan menampilkan konten negatif. Padahal itu bisa dipakai hal-hal yang positif dan bermanfaat. SVP Bytedance, Zhen Liu, membeberkan bahwa di Indonesia memiliki 10 juta pengguna aktif. Byte dance  merupakan perusahaan induk TikTok yang sekaligus menaungi Musical.ly dan beberapa platform video lainnya. Perusahaan asal China itu juga menanam modal di layanan aggregator berita asal Indonesia, BABE.

Fenomena TikTok bukan cuma di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia terutama kawasan Asia yang mencapai pengguna aktif tercatat mencapai 150 juta. Sepanjang kuartal pertama (Q1) 2018, TikTok mengukuhkan diri sebagai aplikasi paling banyak diunduh yakni 45,8juta kali. Jumlah itu mengalahkan aplikasi populer lain semacam YouTube, WhatsApp, Facebook Messenger, dan Instagram (Kompas 05/07/2018).

Inilah abad milenial yang hanya melalui layar kecil seseorang bias terkenal seketika. Orang bias menjadi artis melalui media social karenavideonya yang viral di linimasa. Video yang lucu, unik ataupun yang kreatif akan mudah ditonton setiap pengguna gawai. Anak muda milenial harus milang-miling menangkap peluang. Memanfaatkan teknologi untuk kemajuan peradaban, bukan meresahkan peradaban.

Karya besar beranjak dari imajinasi dan dunia game anak-anak. Misalnya saja permainan Lego yang terdiri dari beberapa kepingan kemudian disusun menjadi suatu bangunan atau mobil. Saat ini, konsep lego itu wujudkan dalam kehidupan nyata. Di kotaChansa, Provinsi Hunan, China berdiri sebuah banguan 57 lantai. Sekilas bangunan 57 lantai itu biasa saja, tak ada yang istimewa. Tapi tahukah Anda berapa hari bangunan itu dibuat? Mungkin dalam pemikiran masyarakat Indonesia untuk membuat bangunan 57 lantai memakan waktu berbulan-bulan sampai tahunan. Nyatanya gedung yang dinamakanMini Sky City tersebut dibangun hanya waktu 19 hari.Itu sebuah karya yang luar biasa dan menakjubkan. Bagaimana bias terjadi ? Mereka memakai konsep Lego. Bangunan itu dibangun seperti menyusun puzzle. Sebuah kemajuan teknologi dari pemikiran yang luar biasa.

Tak sampai disitu, kemajuan teknologi dibidang infrastruktur semakin menakjubkan. Saat ini teknolgi 3D Printing sedang dikembangkan yang bisa membuat bangunan tanpa sentuhan manusia. Melalui alat itu bangunan bisa jadi hanya mesin canggih tersebut. Bukan mustahi lteknologi ini menjadi ancaman bagi profesi arsitek, teknik sipil dan pekerja bangunan.

Abad milenial identik dengan era dispruption. Generasi muda harus pandai membaca sinyal peradaban. Teringat dengan pidato terakhir CEO Nokia, Stephen Elopsembari air matanya bercucuran. Elop mengatakan “kami tidak melakukan kesalahan apapun, tetapi entah kenapa kami kalah”. Nokia takluk dihadapan Android dan Apple yang sebelumnya hanya dianggap semut dihadapan gajah besar. Teknologi bisa menenggelamkan eksistensi sebuah bisnis, sekaligus melejitkan sebuah model bisnis baru.

Harari (2017) dalam bukunya “Homo Deus” menggambarkan peradaban abad Ke – 21 didominasi konsep Algoritma. Algoritma merupakan seperangkat langkah metodis yang bias digunakan untuk melakukan kalkulasi, pemecahan masalah dan mencapai keputusan-keputusan. Untuk memehami kehidupan di masa mendatang, kita harus memahami apa itu konsep algoritma dan bagaimana algoritma mempengaruhi emosi manusia.

Memahami konsep algoritma bukan hal yang mudah. Anak muda tak boleh abai dan terlena. Menyongsong peradaban milineal dengan konsep algoritma tak cukup hanya membaca (literasi) buku. Tapi setidaknya ada 3 literasi yang harus dilakukan. Pertama literasi data, literasi teknolgi dan literasi humanity. Kemampuan membaca dan menganalisis informasi (big data) dalamdunia digital  membuat seseorang mampu meprediksi hal yang akan trending di masa mendatang. Ini akan menjadi pelecut bagi generasi muda untuk mempersiapkan diri untuk berinovasi dan menciptakan sesuatu yang baru melalui tekonologi. Mampu mengoperasikan teknologi baru adalah modal utama. Apalagi mampu memahami kerja mesin melalui coding dan artificial intelligence.

Literasi terakhir yang harus dimiliki generasi sekarang yaitu literasi humanity yang merupakan kemampuan berjejaring dan mampu memahami karakter sesame manusia melalui komunikasi yang baik. Hal ini merupakan modal yang paling penting setiap insan. Betapapun dahsyatnya sebuah teknologi, interaksi sesame manusia dan alam tak boleh dikebirikan. Dunia maya tak boleh lebih nyata dengan dunia nyata. Maka dari itu,teknologi bisa saja memporak-porandakan peradaban manusia, tetapi juga membuat peradaban manusia lebih baik.

 

 

 

Penulis :

Nama : ArwinSanjaya (Salah satu Pemuda Inpiratif, pegiat literasi zaman milenial berkarir di dunia akademisi yang enggan menuliskan titlenya)

Pekerjaan : Staff Pengajar Program Studi Administrasi Bisnis, Fakutlas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : PenaMerah

Facebook Comments