MyInspirasi – Tanggal 21 Mei 1998 menjadi hari yang sangat buram bagi Soeharto. Hari itu ia resmi — merujuk ucapannya sendiri— “berhenti” sebagai presiden. Pada hari Kamis itu pula, seorang warga dari Lhokseumawe menulis surat untuknya.

“Jabatan hanyalah titipan dan amanah Allah yang akan diambil kembali. Tiada seorang pun yang sanggup menolak bila diberi-Nya dan tidak seorang pun yang akan sanggup menerima tanpa seizin-Nya,” tulis Zulkarnain Husein, nama pria Aceh itu.

“Keputusan Bapak untuk mau dan berani mengembalikan amanah kepada yang berhak sesuai konstitusi adalah sangat menyentuh. Kami percaya ini adalah sikap patriot dan pahlawan tanpa ada paksaan dari pihak manapun dan dengan izin Allah tentunya.

Surat untuk Soeharto itu muncul dalam buku karya Anton Tabah (1999) dengan judul Empati di Tengah Badai: Surat-surat kepada Pak Harto. Buku ini diterbitkan saat Indonesia sedang bergolak selepas runtuhnya Orde Baru.

Selain dari Aceh, ada pula surat dari Papua atas nama Siti Sainab. “Saya tidak termasuk yang ikut-ikutan menghujat keluarga Cendana,” tulisnya. “Mengapa? Karena saya bangga bangsa Indonesia memiliki salah satu putra terbaik yang selama 32 tahun mau memberikan yang terbaik untuk bangsa ini maupun bangsa-bangsa lain.”

Dari Makassar, Sulawesi Selatan, Arwin Sanjaya menulis, “Kami tidak dapat membalas apa yang telah Bapak berikan untuk negara ini… Rasa hormat, cinta dan kasih saya, orangtua saya dan adik-adik tidak akan berubah kepada Bapak dalam situasi dan keadaan apapun.”

Seorang ibu rumah-tangga bernama Nadia dari Bandung, Jawa Barat, juga mengungkapkan duka-cita yang mendalam. “Saya sedih kenapa Bapak mengundurkan diri sebagai presiden. Saya meneteskan air mata saat Bapak menyerahkan posisi Bapak Ke Bapak Habibie, padahal pada saat itu Bapak masih bisa mengambil keputusan lain.Terima kasih kami kepada Bapak. Akan kami tanamkan cerita dan sejarah Bapak kepada anak-anak kami yang masih kecil-kecil. Semoga Bapak tetap membangun negara dengan cara lain,” janji Herlina.

Ada juga yang sedikit menceritakan beberapa tindakan Pak Harto yang kelam di masanya, Pembunuhan demi pembunuhan di tanah Papua pun terus terjadi selama Soeharto berkuasa. Terhitung sejak 1981 hingga 1996 atau 2 tahun sebelum berakhirnya Orde Baru, lebih dari 15 ribu orang Papua tewas, belum lagi mereka yang disiksa dan dipenjara.

Presiden Kedua Indonesia, engkau dujuluki Bapak Pembangunan, namun menurut beberapa masyarakat menganggap Bapak adalah sosok yang tangguh,tegas dan berani sehingga bisa membawa negara Indonesia yang disegani oleh negara lain, bisa menjadikan rakyat Indonesia takut untuk kurupsi, rakyat didesa berjuang disawah hingga menjadikan beberapa daerah kita menjadi swasembada. Kadang kami rindu dengan sosok pemimpin seperti Bapak.
Semoga kita semua bisa mengambil beberapa nilai positif dari Presiden kedua Indonesia, Bapak Soeharto dan bisa menerapkan di zaman sekarang sebagai modal untuk membangun negeri kita dan berguna bagi sesama manusia, tentunya.

Facebook Comments