MyInspirasi – Jabatan Panglima di Tentara Nasional Indonesia (TNI), yang dulu disebut Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), kebanyakan diisi orang kelahiran Jawa dan Sumatera. Dalam sejarah ABRI, hanya satu orang saja dari Indonesia Timur yang pernah menjadi orang nomor satu di kesatuan ini, yakni Andi Muhammad Jusuf Amir alias Andi Mo’mang. Di masa Orde Baru, yang menjabat Panglima ABRI/TNI merangkap Menteri Pertahanan Keamanan (Menhankam).

Sekilas kisah beliau, Jusuf sudah 14 tahun tak jadi komandan atau panglima atau staf militer ketika ia menjadi Panglima ABRI. Jabatan militer terakhirnya adalah Panglima Komando Daerah Militer (KODAM) Hasanuddin (1960-1964). Setelahnya, dia menjadi menteri perindustrian (1964-1978), sejak akhir pemerintahan Sukarno dan dekade awal pemerintahan Soeharto.

Sebagai Panglima ABRI, Jusuf yang rajin menyambangi bawahan menjadi populer di kalangan prajurit ABRI. Bahkan, ia kerap memberi kenaikan pangkat langsung di lapangan. Hal ini menimbulkan isu bahwa Jusuf hendak menggantikan Soeharto sebagai presiden.

Suatu kali, Soeharto mengumpulkan jenderal-jenderalnya. Ada Menteri Dalam Negeri Amir Machmud, Menteri Sekretaris Negara Sudharmono, serta Asisten Intel Hankam Leonardus Benjamin Moerdani. Menanggapi tuduhan itu, dalam pertemuannya dengan Soeharto itu, Jusuf menggebrak meja.

“Bohong! Itu tidak benar semua! Saya ini diminta untuk jadi Menhankam/Pangab karena perintah Bapak Presiden. Saya ini orang Bugis. Jadi saya sendiri tidak tahu arti kata kemanunggalan yang bahasa Jawa itu. Tapi saya laksanakan tugas itu sebaik-baiknya tanpa tujuan apa-apa,” kata Jusuf seperti dicatat dalam biografi M. Jusuf yang ditulis Atmadji Sumarkidjo, Jenderal M Jusuf: Panglima Para Prajurit (2006).

Semua yang hadir terkejut dan terdiam. Sebelumnya, tak pernah ada yang berani menggebrak meja di hadapan Presiden Soeharto. Pertemuan itu pun dibubarkan.

Pernah ada kejadian, Jusuf dapat surat dari seorang perwira (Mayor X) pada 26 Februari 1983. Jusuf yang kenal dengan sang pengirim surat enggan membeberkan identitasnya. Kala itu, Jusuf akan digantikan oleh Moerdani menjadi panglima dan perwira ini tidak suka kepada Moerdani.

“Saat ini adalah detik-detik bersejarah. Bapak terpanggil untuk menyelamatkan negara. Bapak jangan goyah. Demi TNI kita yang tercinta kalau berdiri teguh sekarang—pasti menang,” tulis Mayor X. Jusuf akhirnya bertemu dengan mayor tersebut di sebuah tangsi sekitar Jakarta Timur.

Di tangsi itu, Jusuf “menemui sejumlah perwira menengah yang telah dikumpulkan Mayor X tadi. Di sana ia mampu menunjukkan kewibawaannya dan meminta mereka tidak melakukan perlawanan atau gerakan lain yang bisa merusak jatidiri TNI,” tulis Atmadji Sumarkidjo.

“Aku paham jiwa-jiwa mereka yang memprotes atau kecewa karena rupanya mereka juga mendengar rencana pergantian Menhankam/Pangab,” kata Jusuf dalam buku yang ditulis Atmadji. “Tetapi dalam sejarah dan budaya TNI tidak mengenal istilah protes, memberontak atau membangkang perintah”. Mereka pun menurut pada Jusuf. Setelah tak jadi menteri dan panglima, Jusuf menjadi anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sejak 1983 hingga 1993.
Jenderal M.Jusuf adalah Putra kelahiran dari tanah Bone, Sulawesi Selatan, kepemimpinan dan karakter beliau didapat karena kecintaan beliau terhadap budaya bugis sehingga beliau menjung tinggi “pappessenna tomatua”. Karena pesan orang tua dan filosofi bugis inilah menjadikan beliau tokoh nasional. Jenderal M. Jusuf salah satu diantara sedikitnya Jenderal di Masa Orde Baru yang mempunyai karakter jujur, disipin, berani dan tegas dalam mnjalankan amanah dan tanggung jawabnya sebagai prajurit Negara Indonesia.

 

Penulis : PenaMerah

Facebook Comments