Rasulullah saw memerintahkan beberapa Sahabat untuk berhijrah menuju Habasyah (Etopia) di awal-awal masa dakwahnya. Beliau berpesan: “Berangkatlah ke negeri Habasyah, sebab di sana sedang diperintah penguasa yang tidak pernah berbuat zalim kepada seorang pun”. Maka dalam konteks ini, hijrah berarti berpindah ke negeri yang aman. Sedangkan hijrah ke Madinah adalah hijrah menuju negeri iman.
Ibnu Hajar berkata: “Hijrah itu dua jenis; lahiriyah dan batiniyah. Hijrah batin adalah meninggalkan seruan nafsu dan kehendak jahat, sedangkan hijrah lahir adalah meninggalkan fitnah untuk menjaga agama”. Oleh karena itu Rasulullah bersabda: “Seorang Muslim itu adalah orang yang membuat nyaman orang-orang Muslim lainnya dari (tindakan) lidah dan tangannya. Sedangkan orang yang berhijrah itu (Muhajir) adalah orang yang meninggalkan segala larangan Allah”. (HR. Bukhari).

Hijrah seperti ini hukumnya fardhu ‘ain dan tidak berakhir hingga datangnya hari kiamat. Nabi bersabda: “Hijrah itu tidak akan terputus hingga ditutupnya pintu taubat, dan taubat itu tidak pernah tertutup sampai terbitnya matahari dari barat” (HR. Abu Dawud). Dalam Hadits ini, kata hijrah yang disertai dengan kata taubat memberi makna bahwa setiapkali orang yang bertaubat dari dosanya dan senantiasa memperbarui taubatnya itu, maka berarti ia telah memperbarui hijrahnya menuju Allah. Demikianlah makna epistemologis hijrah yang terintegrasikan dalam bangunan Tauhid. Di mana landasannya tidak lain hanyalah sikap taat, ketundukpatuhan dan keikhlasan kepada-Nya (QS. 6:162).
Di samping itu, hijrah adalah salah satu bentuk solusi atas tekanan kaum kafir dan demi efektivitas dakwah. Hijrah adalah tradisi para Nabi. Nabi Ibrahim berhijrah tatkala seruannya bertauhid ditentang hebat oleh kaumnya. Bahkan ayahnya sendiri mengancam akan merajamnya jika Nabi Ibrahim tidak berhenti mengomentari patung-patung sesembahannya (QS.19:46). Maka beliau pun berhijrah menuju Allah (QS. 29:26). Sebab hijrah dilakukan bukan didasari keputusasaan sehingga harus menyingkir ke suatu tempat. Demikian juga dengan hijrah Nabi Musa yang meninggalkan sanak kerabat dan tanah kelahirannya.

Jika kita melihat kondisi di hari ini, ada beberapa pembelajaran yang bisa kita pelajari oleh kisah Nabi saw, bahwa hijrah itu bagi manusia sangat dianjurkan oleh Nabi saw, diatas adalah salah satu cerita dari sekian banyak kisah – kisah lain yang bisa menginspirasi di kehidupan kita.

 

 

sumber : dewandakwah

Facebook Comments