Indonesia hari ini memasuki zaman now, memiliki masyarakat yang kompeten dan hampir di semua kota atau daerah memiliki perusahaan besar,banyaknya Investor asing masuk di Indonesia merupakan bukti bahwa banyaknya lapangan kerja sebagai karyawan ataupun model bisnis usaha yang beraneka ragam walaupun banyak juga manusia di negara kita yang belum memiliki penghasilan atau biasa disebut pengangguran. Perlahan tapi pasti pekerjaan akan didapatkan oleh beberapa manusia yang ingin berusaha dan berdoa, namun dibalik itu semua sebenarnya apakah tujuan manusia untuk bekerja ? Menurut penulis ialah kebutuhan manusia itu ialah makan,mempunyai tempat tinggal agar bisa berteduh di musim panas dan hujan dan yang terpenting adalah bisa memenuhi kebutuhan manusia dan keluarganya setiap hari. Jika memang seperti ini maka itu adalah hal yg lazim dan wajib manusia bekerja di perusahaan atau memilih berdikari dengan usaha masing masing. Dalam ilmu Ekonomi dasar dibahas bahwa kebutuhan manusia terbagi menjadi tiga bagian,

Kebutuhan Pokok (primer) kebutuhan ini meliputi kebutuhan tempat tinggal,makan-minum dan hal hal lainnya yang menjadi dasar kehidupan manusia.

Kebutuhan Pelengkap (sekunder) adalah kebutuhan tambahan yang dipenuhi ketika kebutuhan pokok sudah terealisasi seperti sepeda motor,pendidikan, pariwisata dan rekreasi.

Kebutuhan Mewah (Tersier) Kebutuhan ini bisa dilakukan ketika kebutuhan Primer sudah bisa dilakukan, biasanya para ahli menyebut manusia yang bisa menjalankan kebutuhan ini adalah manusia yang tergolong orang kaya karena hidup dengan barang barang mewah seperti rumah mewah,mobil,perhiasan mewah dan barang barang antik,smartphone yang harganya puluhan juta.

Namun semakin berlanjut usia bumi maka semakin tergeser pula tujuan manusia memenuhi kebutuhannya, banyak nya manusia yang bekerja di zaman sekarang dengan impian meraih kebutuhan tersier (mewah) bukan lagi ingin memenuhi kebutuhan memiliki tempat tinggal yang bisa dipakai berteduh melainkan berkeinginan memiliki mobil mewah. Sering kita jumpai ada teman,kerabat atau bahkan keluarga lebih memilih memiliki mobil ketimbang rumah pribadi, jadi pola dari ilmu ekonomi pun sudah berubah alhasil apa yang menjadi kekhawatiran oleh pencetus ahli kebutuhan manusia itu mulai nampak, banyaknya manusia ingin memiliki mobil dengan upah atau penghasilan sekunder akan merusak kepribadiannya sendiri coba bayangkan dengan penghasilan sekitar 3-4 juta rupiah mereka memaksakan diri membeli mobil mewah, mereka mengambil dana dari mana? Itu baru mobil belum lagi jika ada yang memaksakan memiliki smartphone updaten terbaru.

Hasrat manusia yang berlebihan kini seolah olah bekerja keras bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup melainkan Gaya Hidup.

Bagi mereka yang mampu dan berkecukupan,hal itu mungkin tidak menjadi masalah tetapi yang menjadi masalahnya adalah ketika pola pikir ini terlanjur meracuni kaum menengah kebawah yang menuruti hawa nafsunya maka dampak negatif semakin terlihat penyakit stres, jam kerja manusia dari pagi sampai malam,konflik sosial lainnya semakin hari semakin meningkat.

Perlu diingat “sekecil apapun uang yang dimiliki akan cukup bila digunakan untuk hidup Tetapi sebanyak banyaknya uang yang kita miliki itu tak akan cukup memenuhi gaya hidup”. Padahal akar dari masalah hanyalah pergeseran pola pikir yang sulit menerima diri sesuai kodratnya dengan cara bersyukur (mensyukuri apa yang kita miliki).

Keinginan hanyalah nafsu dan tak pernah ada habisnya,nafsu menjauhkan kita kepada Pencipta dan akan merusak diri sendiri.
Semoga kita semua tidak terjerumus oleh hawa nafsu dan kita semua masuk dalam golongan orang orang selamat.

 

Penulis : Pena Merah

Facebook Comments