Kendati hidup seadanya, Iswandi (60) dan Nur Hidayati (38) tak pernah menyerah untuk menjadikan tiga anaknya sebagai orang hebat. Tinggal di rumah 7 meter x 6 meter dengan dinding rumah anyaman bambu yang sudah lapuk dan berlantaikan tanah Iswandi bersikukuh menjadikan tiga anaknya, Miftahul Huda (15), Lailatur Rohman (11) dan Nurul Aisyah (9), untuk mempunyai nasib yang lebih baik dari mereka. Di rumah mungilnya itu terbagi menjadi dua ruangan.

Satu ruang untuk penyimpanan barang-barang dan ruang satunya sebagai ruang tamu dan tempat tidur. “Kalau malam kami tidur di sini bareng-bareng beralaskan tikar di ruangan ini,” kata Iswandi yang ditemui di rumahnya di RT 004/RW 002, Dusun Danyang, Desa Sukosari, Kecamatan Babadan, Ponorogo, Selasa ( 2/ 5 / 2017).

Tidak ada barang mewah di dalam rumah Iswandi. Di ruang tamu yang menjadi tempat serba guna hanya ada tv tabung kecil dan radio kecil yang menjadi hiburan di malam hari.

Sementara itu di ruangan lain tampak sejumlah barang-barang berserakan dan tumpukan pakaian di berbagai sudut.

Iswandi menuturkan rumah tersebut sudah di tempati sejak 2004 dan belum pernah diperbaiki. Awalnya ia menyewa di rumah itu. Kemudian pada 2006 ia membeli rumah itu dengan cara mencicil seharga Rp 14 juta. “Sampai sekarang belum lunas. Masih kurang sekitar Rp 3 juta,” ujar Iswandi.

Selama bertahun-tahun tinggal di rumah itu, Iswandi mengaku tidak memiliki kasur ataupun ranjang. Ia bersama istri dan anak-anaknya sudah terbiasa tidur dengan beralaskan tikar di ruang tamunya. Meski ada banyak lubang di dinding rumahnya, namun keluarganya tak pernah merasa kedinginan pada malam hari. Ia pun tak khawatir lagi ular yang masuk ke rumahnya.

“Dulu saat tinggal pertama disini banyak ular yang masuk mulai dari kobra sampai ular weling. Tetapi setelah saya sering bacakan ayat kursi, ular-ular itu tidak datang lagi,” kata Iswandi.

Kegigihan, kerja keras, serta doa Iswandi dan istrinya membuahkan hasil. Dua anaknya berprestasi hingga mendapatkan beasiswa di sekolahnya.

“Meski kondisi kami serba kekurangan kami terus berdoa dan berusaha agar anak-anak kami bisa menjadi orang yang berhasil,” katanya. Iswandi menceritakan Miftatul Huda (15) yang saat ini duduk di Kelas VIII MTs Ar Rohman, Desa Tegalrejo, Kecamatan Semen, Kabupaten Magetan, menjadi juara pidato berbahasa Inggris dan bahasa Arab tingkat karesidenan Madiun, mewakili sekolahnya.

Sementara anak keduanya, Lailatur Rohman mewakili Kabupaten Ponorogo di ajang lomba pantomim tingkat pelajar SD se-Provinsi Jawa Timur. Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, Iswandi mengandalkan keahliannya sebagai tukang urut dan memelihara ternak milik tetangganya.

Upah yang diterimanya sebagai tukang urut tidak menentu. “Seikhlasnya saja dari yang memberi. Terkadang dikasih Rp 40.000. Terkadang juga dikasih beras,” ungkap Iswandi. Sementara istrinya, Nur Hidayati bekerja di warung makan dari pagi hingga malam dengan upah Rp 40.000 per hari. “Upah kerja itu habis untuk biaya kebutuhan kami sehari-hari, ” kata Iswandi.

Iswandi mengaku, sebetulnya ia dan istrinya ingin memperbaiki rumah kayunya yang sudah lapuk dan tidak layak huni. Lantaran ketiadaan dana, niatnya memperbaiki rumah ditunda sampai sekarang. Kendati demikian, Iswandi tetap berusaha untuk mengumpulkan bahan-bahan bangunan yang bisa didapatkan dari sungai seperti batu kali. Bila waktu senggang, Iswandi dibantu anaknya mengumpulkan batu kali yang didapatkan dari sungai di belakang rumahnya. Meski hidup dengan segala keterbatasan, Iswandi mengaku bahagia dan tidak pernah merasa kekurangan.

Iswandi mengajarkan pada istri dan anaknya untuk tidak pernah mengeluh meski dihimpit banyak persoalan ekonomi. “Saya selalu sampaikan ke mereka untuk mensyukuri nikmat yang diberikan Allah SWT. Dan alhamdulillah, setiap nikmat yang kami syukuri membuahkan anak-anak saya sehat, taat pada orang tua hingga bisa berprestasi,” ucap Iswandi. Untuk mendidik anaknya, Iswandi tegas. Ia selalu mewajibkan anak-anaknya untuk belajar dan mengerjakan tugas atau PR dari sekolah. Tak hanya itu, ia juga mengawasi dengan siapa anak-anaknya bergaul dan bermain.

Tak sekedar berusaha, kata Iswandi, ia dan istrinya selalu menunaikan salat tahajud setiap malamnya. Saat salat tahajud itu ia dan istrinya berdoa agar cita-cita anaknya kelak tercapai dan bisa hidup lebih baik dari mereka. Harapannya, anak pertama yang saat ini menimba ilmu di salah satu pondok pesantren di Magetan bisa menghafal Al Quran. Kondisi itu didukung dengan prestasi bahasa arab anaknya yang sudah mahir.

“Nanti anak kedua dan ketiga saya kalau sudah lulus SD juga saya masukkan ke pondok pesantren agar bisa mengikuti jejak kakaknya,” tutur Iswandi.

Sementara itu istrinya, Nurul Hidayati, meski bekerja di warung ia tak melupakan anak-anaknya. Saat istirahat siang ia membawakan makanan untuk anak-anak dan suaminya untuk jatah makan siang.

Ia pun bangga, meski hidup dalam keterbatasan, anak-anaknya tidak nakal bahkan bisa berprestasi di sekolahnya. Nurul bersama suaminya sudah bertekad menjadikan tiga buah hatinya menjadi orang yang hebat dan berguna bagi banyak orang.

Facebook Comments