Aiptu Sutomo (43) terlihat tersenyum ketika mendapat ucapan selamat dari rekan-rekannya sesama anggota kepolisian di Polres Banyuwangi. Ucapan selamat itu diberikan kepada lelaki yang sehari-hari menjadi petugas Bhayangkara Pembina Kamtibmas (Bhabinkamtibmas) di Desa Wringinpitu, Kecamatan Tegaldlimo, karena mendapatkan hadiah umrah dari Kapolres Banyuwangi AKBP Donny Adityawarman.

Hadiah itu diberikan atas kegiatan sosial yang selama empat tahun ini dikerjakan oleh Aiptu Sutomo, yaitu menginisiasi bedah rumah dan memasang lampu penerangan secara swadaya. Kegiatan sosial tersebut dilakukan bapak dua anak tersebut di luar pekerjaannya sebagai seorang polisi.

“Sebenarnya saya tidak ingin banyak orang yang tahu kegiatan saya, tapi saya mengucapkan terima kasih dan bersyukur atas apresiasi yang diberikan oleh Kapolres untuk memberangkatkan umrah,” kata Aiptu Sutomo.

Lelaki yang akrab dipanggil Pak Tomo tersebut bercerita bahwa bedah rumah yang ia kerjakan bersama warga secara swadaya sudah dilakukan sejak empat tahun lalu di Desa Ringinpitu dan Sumber Luhur, Kecamatan Tegaldlimo.

Hingga tahun 2018, total sudah ada 13 rumah warga yang dibedah olehnya dan warga. Satu rumah menghabiskan anggaran antara Rp 5 juta hingga Rp 15 juta. Rumah yang dibedah juga tidak harus berdiri di lahan milik pribadi. Ada beberapa rumah yang dibangun di atas tanah sewa, tetapi ada perjanjian tertulis antara pemilik tanah dan penghuni rumah yang menyatakan tidak keberatan dan tidak akan membongkar rumah yang sudah dibedah.

Surat perjanjian tersebut dibuat untuk menghindari masalah. “Semuanya adalah rumah warga tidak mampu. Jika ditanya uangnya dari mana, ya dari warga. Secara urunan. Saya hanya menggerakkan saja. Uang yang dikumpulkan warga untuk membeli bahan bangunan dan untuk mengerjakannya. Kita tidak pakai tukang, tapi ya warga yang garap secara gantian,” jelasnya.

Munculnya ide bedah rumah Ide tersebut muncul ketika dia sedang berkumpul dengan tetangga sekitar rumahnya dan kemudian mendengar cerita sebuah rumah milik seorang warga yang sudah rusak.

Lalu dia mengajukan ide agar diperbaiki bersama-sama dengan cara gotong royong. “Sejak saat itu, kami rutin memperbaiki rumah yang rusak. Bahkan kalau ketemu orang, kadang mereka bilang, ‘Pak, kapan rumah saya dibedah?’.

Kan akhirnya suka kepikiran,” ujar Pak Tomo sambil tersenyum. Sebelum memutuskan membedah sebuah rumah, Pak Tomo mengumpulkan warga untuk rapat dan menunjuk siapa yang menjadi penanggung jawab perbaikan rumah.

Lalu mereka akan menghitung anggaran yang dibutuhkan dan mengatur jadwal waktu perbaikan dimulai. Semua dilakukan dalam satu tim.

“Untuk memperbaiki satu rumah paling lama sekitar dua minggu. Itu kita buatkan jadwal hari ini siapa yang bekerja, besok siapa. Yang penting tidak ada yang merasa terbebani. Ada yang urunan bata, pasir. Yang ibu-ibu masak buat makannya. Semua dilakukan secara gotong royong,” terangnya.

Bahkan setiap akan membedah rumah, dia dan warga selalu membuat selamatan minimal menyembelih tujuh ekor ayam kampung untuk dimakan bersama warga sekitar. “Selamatan ini penting biar berkah dan selamat semua,” jelas bintara 1994-1995 ini.

Pak Tomo juga ikut serta dalam pembangunan rumah selepas bekerja. Setelah rumah selesai, maka Pak Tomo akan kembali mengumpulkan warga untuk laporan keuangan secara terbuka. Saat ini di Desa Ringinpitu sisa saldo untuk bedah rumah sebesar Rp 2 juta, sedangkan di Sumberluhur sisa uang yang ada sebesar Rp 13 juta.

Semua dilaporkan secara tertulis, termasuk foto rumah sebelum dan setelah dibedah. Hal tersebut dilakukan sebagai pertanggungjawaban dana yang digunakan serta membangun kepercayaan warga.

“Semua harus terbuka, jangan ada yang ditutupi. Kepercayaan warga ini harus dijaga,” jelas lelaki yang tinggal di Dusun Sumber Luhur, Desa Tegaldlimo, Banyuwangi.

Sumber: kompas

Facebook Comments